Minggu, 04 Juni 2017

Tanah Gambut

Tipe Klasifikasi Tanah Gambut

Tanah Gambut ialah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tanaman yang membusuk setengah; Oleh karena itu, kandungan bahan organik tinggi. Tanah terutama terbentuk di lahan basah disebut dalam bahasa Inggris sebagai gambut; dan lahan gambut di berbagai belahan dunia dikenal dengan berbagai nama seperti rawa, moor, Muskeg, Pocosin, lumpur, dan lain-lain. Gambut istilah itu sendiri diserap dari bahasa lokal Banjar.

Sebagai bahan organik, gambut dapat digunakan sebagai sumber energi. jumlah volume gambut di seluruh dunia diperkirakan berjumlah 4 triliun m³, yang meliputi area seluas sekitar 3 juta km persegi, atau sekitar 2% dari luas daratan dunia.

 

Menurut tingkat kematangannya, gambut dibagi menjadi:
  • Gambut saprik (matang), yaitu gambut yang sudah melapuk dan bahan asalnya sudah tidak bisa dikenali. Berwarna cokelat tua hingga hitam dan bila diremas oleh tangan kandungan seratnya < 15%.
  • Gambut hemik (setengah matang), yaitu gambut setengah lapuk dan sebagian bahan induknya masih bisa dikenali. Berwarna cokelat dan bila diremas bahan seratnya di kisaran 15-75%.
  • Gambut fibrik (mentah), yaitu gambut yang belum melapuk dan bahan induknya bisa dikenali dengan mudah. Berwarna cokelat dan bila diremas bahan seratnya > 75%.
 Menurut tingkat kesuburannya, gambut dibagi menjadi:
  • Gambut eutrofik, yaitu gambut yang subur dan kaya akan bahan mineral, basa dan unsur hara lainnya. Gambut tipe ini biasanya memiliki lapisan yang tipis dan dipengaruhi oleh sedimen sungai atau laut.
  • Gambut mesotrofik, yaitu gambut agak subur dan dicirikan dengan kandungan mineral basa yang sedang.
  • Gambut oligotrofik, yaitu gambut yang tidak subur karena miskin mineral dan hara. Gambut jenis ini bisanya jauh dari pengaruh lumpur sungai dan laut.
Menurut lingkungan pembentukannya, gambut dibagi menjadi:
  • Gambut ombrogen, yaitu gambut yang terbentuk pada lingkungan yang hanya dipengaruhi oleh air hujan.
  • Gambut topogen, yaitu gambut yang terbentuk  di lingkungan air pasang sungai/laut. Dengan demikian gambut topogen lebih subur dibandingkan gambut ombrogen.
Menurut kedalamannya, gambut dibagi menjadi:
  • gambut dangkal (50 -100 cm)
  • gambut sedang (100 - 200 cm)
  • gambut dalam (200 - 300 cm)
  • gambut sangat dalam (> 300 cm)
Menurut lokasinya, gambut dibagi menjadi:
  • gambut pantai, yaitu terbentuk dekat pantai dan dipengaruhi pasang laut.
  • gambut pedalaman, yaitu gambut yang hanya dipengaruhi oleh air hujan karena jauh dari laut.
  • gambut transisi, yaitu gambut yang terbentuk diantara kedua wilayah tersebut.
 

Gambut mentah (atas), Gambut setengah matang (bawah)

Menurut berbagai penelitian, gambut di Indonesia sebagian besar termasuk kategori mesotrofik dan oligotrofik. Gambut eutrofik di Indonesia sangat sedikit dan paling banyak tersebar di daerah pantai dan aliran sungai. Secara umum gambut di Sumatera lebih subur dibandingkan gambut di Kalimantan. Di Pulau Jawa, gambut tersisa salah satunya di daerah Lakbok Ciamis dan merupakan salah satu laboratorium gambut di Jawa. Gambut di Lakbok sekarang banyak dialihfungsi menjadi lahan pertanian. 

Gambut di Lakbok Ciamis
 

Sumber:
disini
Fahmuddin Agus dan I. G Made Subiska
Balai Penelitian Tanah Bogor